2 minggu sudah terlewati. Liburan akhir
semester pun berhenti. Bangun di pagi hari haruslah setiap hari dan rasa ingin
kembali bersekolah menggebu-gebu di hati. Andre, seorang siswa yang sekarang
duduk di kelas 4 sekolah dasar, bersiap untuk berangkat ke sekolah pagi ini.
Dengan dibantu oleh bibinya, Andre menyiapkan seluruh peralatan sekolahnya.
Kemudian sarapan dan berangkat ke sekolah dengan diantar oleh supir pribadinya.
Andre adalah anak tunggal dari seorang pemilik salah satu perusahaan makanan
terbesar di kota pekanbaru. Hidupnya yang mewah dan glamour, membuat Andre
menjadi anak rumahan yang susah bergaul dengan lingkungan sekitarnya. Ia tak
memiliki seorang teman pun. Ia hanya bermain dengan seekor kucing ataupun video
game miliknya.
Setelah
sampai di sekolah, Andre duduk sendirian di bangkunya sambil membaca novel. Ia
tidak seperti anak-anak lainnya yang suka mengobrol dan bermain. 3 tahun
bersekolah, Andre tidak memiliki seorang teman. Bahkan, ia lebih nyaman duduk
sendirian di bangkunya tanpa teman sebangku. Tetapi hari ini, kesendirian itu akan
hilang dalam dirinya. Seorang siswi menghampirinya.
“ Hai, aku Lala. Boleh gak aku duduk di sini
?” Andre terpana melihat paras Lala hingga menjadi salah tingkah.
“ Ehmm, anu...eh boleh. Silahkan....hehe.”
walaupun dengan ekspresi Andre yang aneh, Lala tetap tersenyum ramah kepadanya.
Bel
istirahat berbunyi. Lala mengajak Andre jajan di kantin. Andre mengangguk tanda
setuju. Sampai di kantin mereka membeli bakso kemudian duduk di tempat yang
nyaman. Biasanya, Andre hanya menikmati makanannya sendiri sambil membaca
novel. Namun kali ini berbeda. Ada seseorang yang menemaninya jajan. Mereka
berdua mengobrol banyak, mulai tentang kehidupan,pengalaman, dan kesukaan
masing-masing. Lala terkesima setelah mendengar bahwa Andre adalah anak orang
kaya yang mempunyai rumah yang besar, kolam berenang dan juga kucing sebagai
peliharaannya. Andre bilang dia betah di rumah walaupun hanya 7 orang yang
tinggal di dalamnya. Dirinya, Ayah, Ibu, Bibi, Satpam, Supir, dan Tukang Kebun.
Sebaliknya, Andre iba mendengar cerita Lala yang menceritakan bahwa dirinya
adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Walaupun tinggal di panti
asuhan, Lala tetap bahagia karena ia mempunyai banyak teman dan ibu asuh yang
sangat baik.
Hari
terus berganti. Tak terasa sudah 1 bulan mereka menjadi teman. Sepertinya, saat
ini ungkapan teman tidak cocok untuk mereka berdua. Lebih tepatnya hubungan
mereka sekarang adalah sahabat. Lala sering berkunjung ke rumah Andre. Begitu
pun sebaliknya, Andre sering bermain ke Panti Asuhan. Hari ke hari, bulan ke
bulan, dan tahun ke tahun. Sampai jenjang SMA, bahkan di universitas, mereka
selalu bersama. Hanya saja di universitas, mereka berbeda jurusan. Andre di
jurusan ekonomi sedangkan Lala di jurusan bahasa inggris. Sampai suatu saat,
Andre memiliki perasaan terhadap Lala. Tapi ia memendamnya. Ia tak mau hubungan
persahabatannya menjadi canggung akibat ia menyatakan perasaan cintanya kepada
Lala.
Suatu
hari, Andre mempunyai teman baru bernama Roy. Roy adalah teman satu jurusan
Andre juga anak dari pemilik suatu perusahaan yang menjadi relasi perusahaan
ayahnya Andre. Andre mengajak Roy ke kantin untuk menemui Lala. Di kantin, Lala
berkenalan dengan Roy. Roy mencuri-curi pandang kepada Lala. Begitu pun
sebaliknya. Situasi itu tak terbaca oleh Andre. Ia pun tak pernah berfikir
bahwa Roy memiliki perasaan kepada sahabatnya itu.
Seiring
berjalannya waktu, Roy dan Lala semakin dekat. Mereka sering bertelepon juga
memberi kabar. Terkadang mereka juga sering pergi bersama tanpa Andre. Andre
biasa saja melihat mereka berdua sering bersama. Bahkan ketika kumpul bertiga,
mereka selalu asyik berdua dan Andre seperti dicuekin. sampai suatu hari, Roy
menyatakan cintanya kepada Lala. Lala menerima pernyataan cinta tersebut.
Mereka resmi berpacaran tanpa sepengetahuan Andre. Esoknya, mereka pulang
bersama dari kampus dan bertemu dengan Andre. Mereka bergandengan tangan. Andre
tersenyum melihat mereka berdua.
“Cie....mesra banget ya. Seperti orang pacaran
saja,” kata Andre.
Mereka berdua tersenyum tersipu. Andre
bingung. Mereka berkata bahwa perkataan Andre 100% benar. Klappp, Andre
tertegun. Diam. Tak bicara sepatah kata pun. Hatinya serasa diremas dan
disobek. Andre ditikung oleh teman sendiri. Andre tersenyum palsu untuk
menutupi rasa sakitnya kemudian mengucapkan “Selamat” kepada mereka. Setelah
kejadian itu, Andre menjauhi mereka berdua. Andre menyendiri seperti dulu lagi.
Jika mereka mengajak Andre nongkrong, Andre beralasan untuk fokus belajar dan
sibuk organisasi.
Dalam
kurun waktu 3,5 tahun, Andre berhasil lulus dari universitas dengan nilai cumlaude.
Sekarang Andre bergelar sarjana ekonomi. 2 tahun kemudian, ia menjadi manajer
di perusahaan milik ayahnya. Ia sangat senang dan bangga dengan jabatan
tersebut. Pagi ini, Om Alex, Ayahnya Andre, memerintahkan kepada Andre untuk
mewakili perusahaan dalam rapat mingguan yang akan diadakan di kantor
perusahaan milik Ayahnya Roy. Ingin hati menolak perintah tersebut, tapi Andre
tak mau mengecewakan sang Ayah. Ia takut dibilang tidak profesional dalam
pekerjaannya. Andre pun menerima perintah itu. Ia takut. Sangat takut berjumpa
dengan Roy. Bukan takut karena fisik, tapi takut mengingat kembali kejadian
yang sudah berlalu yang membuatnya larut dalam kesedihan akibat patah hati.
Sampai
di ruangan rapat, Andre tak berani menatap Roy. Dia pun kurang fokus ketika
rapat. Ia hanya termangut diam di tempat. Setelah selesai rapat, Roy
menemuinya. Roy tampak bingung melihat tingkah Andre yang menunduk.
“ Lah, Andre.. Kamu kenapa ?,” ucap Roy.
Andre menguatkan hati. Pasti bisa, kamu
bisa bangkit Andre. ucapnya dalam batin. Andre mengangkat wajahnya sambil
tersenyum kecut. Roy mengajak Andre untuk ngopi di kantin kantor. Mereka
mengobrol panjang lebar tentang pekerjaan dan juga tentang mengapa Andre jarang
memberi kabar dan menghubungi Roy. Andre mencari-cari alasan lain. Sampai ke
pembicaraan yang sensitif. Minggu depan Roy dan Lala akan menikah. Deg !,
jantung Andre berdegup sangat kencang. Sesak. Hatinya terasa rapuh. Tapi ia
harus kuat. Ia harus menerima kenyataan pahit ini.
Setelah
mengobrol panjang lebar, Andre pamit kepada Roy untuk kembali ke kantornya. Roy
mengantar Andre ke parkiran. Di pintu keluar, ada seorang wanita muda yang
memberi salam hormat kepada Roy. Ternyata ia adalah sekretaris Roy. Andre
memandang wanita tersebut. Roy paham atas lirikan Andre. Roy berbisik kepada
Andre bahwa Hannah, sekretarisnya tersebut, belum menikah dan baru wisuda tahun
ini. Seakan tahu maksud Roy, Andre tersenyum nakal. Roy memberikan nomor HP
milik Hannah kepada Andre. Andre berkata dalam hati, “ mungkin, ia bisa menjadi
senjataku dalam melawan kepedihan hati yang selama ini aku rasakan.”
Malamnya,
Andre menguatkan tekad untuk menelpon Hannah. Diangkat. Andre memperkenalkan
diri bahwa dirinya adalah teman atasannya. Mereka mengobrol panjang sampai
tengah malam. Keesokan harinya, Andre mengajak Hannah makan siang bersama.
Seminggu setelah masa PDKT mereka, akhirnya mereka berdua resmi berpacaran.
Pagi
ini, Andre berpakaian rapi dan tampak sangat bersemangat. Hari ini adalah hari
pernikahan Lala dan Roy. Ia memilih batik coklat. Karena ia dan Hannah sudah
janjian untuk memakai baju warna couple untuk menghadiri acara pernikahan Lala
dan Roy. Semanga gairahnya bukan karena pernikahan kedua sahabatnya. Tetapi,
keinginan berjumpa dengan belahan jiwanya.
Tepat
pukul 08.00, Andre sampai di hotel. Ia langsung pergi ke aula pernikahan. Sah.
Begitulah seruan suara terdengar ketika ia memasuki aula pernikahan. Hari ini,
tepat di depan mata Andre. kedua sahabatnya sah menjadi pasangan suami istri.
Andre kemudian menyalami mereka berdua dan memberikan ucapan selamat. Lala
memeluk Andre, karena sudah lama mereka tak saling memberi kabar. Sakit ?.
tidak, kali ini tidak sakit. Karena penyembuhnya sudah ada, yaitu Hannah.
Andre
mondar-mandir mencari Hannah. Ah dapat, ucap Andre dalam hati. Namun, ia
melihat Hannah juga sibuk. Ternyata Hannah adalah penanggung jawab di
pernikahan Roy. Andre menghampiri Hannah dan menanyakan apa yang membuatnya
ganduh. Ia bilang kateringan makan siang belum datang. Sudah ditelpon beberapa
kali juga tidak diangkat. Andre bilang bahwa ia akan mendatangi pemilik
katering tersebut.
Setelah
didatangi ke tempat katering, ternyata mobil pengantar makanan sedang mogok.
Andre memakluminya. Kemudian Andre kembali ke hotel. Di perjalanan menuju
hotel, ia melihat asap tebal ke arah hotel. Jangan-jangan, tidak !.
pikiran Andre mulai memikirkan perkiraan yang tidak-tidak. Ia melajukan
mobilnya dengan sangat kencang. Membeku. Andre membeku setelah melihat hotel
yang tadinya berdiri tegak, sekarang menghasilkan asap hitam dan tebal. Suara
sirene ambulan dan pemadam kebakaran menyadarkanya dari lamunan. Andre
menerobos masuk ke hotel mencari Hannah, walaupun pihak hotel telah menahannya.
Ia berteriak sambil mengeluarkan air mata. Itu dia !, ucapnya dalam
hati. Hannah terpapar di sana. Sambil mengeluarkan air mata. Andre mencium
Hannah dengan lembut. Ini adalah patah hati keduanya Andre.
Gelap.
Andre terbangun. Ia sekarang berada di rumah sakit. Ia pingsan ketika menerobos
masuk ke hotel. Mama dan Ayahnya ada di sana. Ia bertanya bagaimana keadaan
Hannah,Lala, dan Roy. Mamanya mengeluarkan air mata sambil memeluk Andre dan
berkata bahwa mereka bertiga telah beristirahat tenang disana. Momen ini adalah
momen paling menyakitkan di kehidupan Andre. kehilangan kedua sahabatnya dan
juga belahan jiwanya.
Cerpen By : M.Reza Syahputra_Peserta lomba cerpen patah hati_inspirasi pena
Enable GingerCannot connect to Ginger Check your internet connection
or reload the browserDisable in this text fieldEditEdit in GingerEdit in Ginger