Minggu, 06 Desember 2020

Cinta Di Atas Derita

    2 minggu sudah terlewati. Liburan akhir semester pun berhenti. Bangun di pagi hari haruslah setiap hari dan rasa ingin kembali bersekolah menggebu-gebu di hati. Andre, seorang siswa yang sekarang duduk di kelas 4 sekolah dasar, bersiap untuk berangkat ke sekolah pagi ini. Dengan dibantu oleh bibinya, Andre menyiapkan seluruh peralatan sekolahnya. Kemudian sarapan dan berangkat ke sekolah dengan diantar oleh supir pribadinya. Andre adalah anak tunggal dari seorang pemilik salah satu perusahaan makanan terbesar di kota pekanbaru. Hidupnya yang mewah dan glamour, membuat Andre menjadi anak rumahan yang susah bergaul dengan lingkungan sekitarnya. Ia tak memiliki seorang teman pun. Ia hanya bermain dengan seekor kucing ataupun video game miliknya. 

            Setelah sampai di sekolah, Andre duduk sendirian di bangkunya sambil membaca novel. Ia tidak seperti anak-anak lainnya yang suka mengobrol dan bermain. 3 tahun bersekolah, Andre tidak memiliki seorang teman. Bahkan, ia lebih nyaman duduk sendirian di bangkunya tanpa teman sebangku. Tetapi hari ini, kesendirian itu akan hilang dalam dirinya. Seorang siswi menghampirinya.

“ Hai, aku Lala. Boleh gak aku duduk di sini ?” Andre terpana melihat paras Lala hingga menjadi salah tingkah.

“ Ehmm, anu...eh boleh. Silahkan....hehe.” walaupun dengan ekspresi Andre yang aneh, Lala tetap tersenyum ramah kepadanya.

 

            Bel istirahat berbunyi. Lala mengajak Andre jajan di kantin. Andre mengangguk tanda setuju. Sampai di kantin mereka membeli bakso kemudian duduk di tempat yang nyaman. Biasanya, Andre hanya menikmati makanannya sendiri sambil membaca novel. Namun kali ini berbeda. Ada seseorang yang menemaninya jajan. Mereka berdua mengobrol banyak, mulai tentang kehidupan,pengalaman, dan kesukaan masing-masing. Lala terkesima setelah mendengar bahwa Andre adalah anak orang kaya yang mempunyai rumah yang besar, kolam berenang dan juga kucing sebagai peliharaannya. Andre bilang dia betah di rumah walaupun hanya 7 orang yang tinggal di dalamnya. Dirinya, Ayah, Ibu, Bibi, Satpam, Supir, dan Tukang Kebun. Sebaliknya, Andre iba mendengar cerita Lala yang menceritakan bahwa dirinya adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Walaupun tinggal di panti asuhan, Lala tetap bahagia karena ia mempunyai banyak teman dan ibu asuh yang sangat baik.

 

            Hari terus berganti. Tak terasa sudah 1 bulan mereka menjadi teman. Sepertinya, saat ini ungkapan teman tidak cocok untuk mereka berdua. Lebih tepatnya hubungan mereka sekarang adalah sahabat. Lala sering berkunjung ke rumah Andre. Begitu pun sebaliknya, Andre sering bermain ke Panti Asuhan. Hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun. Sampai jenjang SMA, bahkan di universitas, mereka selalu bersama. Hanya saja di universitas, mereka berbeda jurusan. Andre di jurusan ekonomi sedangkan Lala di jurusan bahasa inggris. Sampai suatu saat, Andre memiliki perasaan terhadap Lala. Tapi ia memendamnya. Ia tak mau hubungan persahabatannya menjadi canggung akibat ia menyatakan perasaan cintanya kepada Lala.

 

            Suatu hari, Andre mempunyai teman baru bernama Roy. Roy adalah teman satu jurusan Andre juga anak dari pemilik suatu perusahaan yang menjadi relasi perusahaan ayahnya Andre. Andre mengajak Roy ke kantin untuk menemui Lala. Di kantin, Lala berkenalan dengan Roy. Roy mencuri-curi pandang kepada Lala. Begitu pun sebaliknya. Situasi itu tak terbaca oleh Andre. Ia pun tak pernah berfikir bahwa Roy memiliki perasaan kepada sahabatnya itu.

 

            Seiring berjalannya waktu, Roy dan Lala semakin dekat. Mereka sering bertelepon juga memberi kabar. Terkadang mereka juga sering pergi bersama tanpa Andre. Andre biasa saja melihat mereka berdua sering bersama. Bahkan ketika kumpul bertiga, mereka selalu asyik berdua dan Andre seperti dicuekin. sampai suatu hari, Roy menyatakan cintanya kepada Lala. Lala menerima pernyataan cinta tersebut. Mereka resmi berpacaran tanpa sepengetahuan Andre. Esoknya, mereka pulang bersama dari kampus dan bertemu dengan Andre. Mereka bergandengan tangan. Andre tersenyum melihat mereka berdua.

“Cie....mesra banget ya. Seperti orang pacaran saja,” kata Andre.

Mereka berdua tersenyum tersipu. Andre bingung. Mereka berkata bahwa perkataan Andre 100% benar. Klappp, Andre tertegun. Diam. Tak bicara sepatah kata pun. Hatinya serasa diremas dan disobek. Andre ditikung oleh teman sendiri. Andre tersenyum palsu untuk menutupi rasa sakitnya kemudian mengucapkan “Selamat” kepada mereka. Setelah kejadian itu, Andre menjauhi mereka berdua. Andre menyendiri seperti dulu lagi. Jika mereka mengajak Andre nongkrong, Andre beralasan untuk fokus belajar dan sibuk organisasi.

 

            Dalam kurun waktu 3,5 tahun, Andre berhasil lulus dari universitas dengan nilai cumlaude. Sekarang Andre bergelar sarjana ekonomi. 2 tahun kemudian, ia menjadi manajer di perusahaan milik ayahnya. Ia sangat senang dan bangga dengan jabatan tersebut. Pagi ini, Om Alex, Ayahnya Andre, memerintahkan kepada Andre untuk mewakili perusahaan dalam rapat mingguan yang akan diadakan di kantor perusahaan milik Ayahnya Roy. Ingin hati menolak perintah tersebut, tapi Andre tak mau mengecewakan sang Ayah. Ia takut dibilang tidak profesional dalam pekerjaannya. Andre pun menerima perintah itu. Ia takut. Sangat takut berjumpa dengan Roy. Bukan takut karena fisik, tapi takut mengingat kembali kejadian yang sudah berlalu yang membuatnya larut dalam kesedihan akibat patah hati.

 

            Sampai di ruangan rapat, Andre tak berani menatap Roy. Dia pun kurang fokus ketika rapat. Ia hanya termangut diam di tempat. Setelah selesai rapat, Roy menemuinya. Roy tampak bingung melihat tingkah Andre yang menunduk.

“ Lah, Andre.. Kamu kenapa ?,” ucap Roy.

Andre menguatkan hati. Pasti bisa, kamu bisa bangkit Andre. ucapnya dalam batin. Andre mengangkat wajahnya sambil tersenyum kecut. Roy mengajak Andre untuk ngopi di kantin kantor. Mereka mengobrol panjang lebar tentang pekerjaan dan juga tentang mengapa Andre jarang memberi kabar dan menghubungi Roy. Andre mencari-cari alasan lain. Sampai ke pembicaraan yang sensitif. Minggu depan Roy dan Lala akan menikah. Deg !, jantung Andre berdegup sangat kencang. Sesak. Hatinya terasa rapuh. Tapi ia harus kuat. Ia harus menerima kenyataan pahit ini.

 

            Setelah mengobrol panjang lebar, Andre pamit kepada Roy untuk kembali ke kantornya. Roy mengantar Andre ke parkiran. Di pintu keluar, ada seorang wanita muda yang memberi salam hormat kepada Roy. Ternyata ia adalah sekretaris Roy. Andre memandang wanita tersebut. Roy paham atas lirikan Andre. Roy berbisik kepada Andre bahwa Hannah, sekretarisnya tersebut, belum menikah dan baru wisuda tahun ini. Seakan tahu maksud Roy, Andre tersenyum nakal. Roy memberikan nomor HP milik Hannah kepada Andre. Andre berkata dalam hati, “ mungkin, ia bisa menjadi senjataku dalam melawan kepedihan hati yang selama ini aku rasakan.”

 

            Malamnya, Andre menguatkan tekad untuk menelpon Hannah. Diangkat. Andre memperkenalkan diri bahwa dirinya adalah teman atasannya. Mereka mengobrol panjang sampai tengah malam. Keesokan harinya, Andre mengajak Hannah makan siang bersama. Seminggu setelah masa PDKT mereka, akhirnya mereka berdua resmi berpacaran.

 

            Pagi ini, Andre berpakaian rapi dan tampak sangat bersemangat. Hari ini adalah hari pernikahan Lala dan Roy. Ia memilih batik coklat. Karena ia dan Hannah sudah janjian untuk memakai baju warna couple untuk menghadiri acara pernikahan Lala dan Roy. Semanga gairahnya bukan karena pernikahan kedua sahabatnya. Tetapi, keinginan berjumpa dengan belahan jiwanya.

 

            Tepat pukul 08.00, Andre sampai di hotel. Ia langsung pergi ke aula pernikahan. Sah. Begitulah seruan suara terdengar ketika ia memasuki aula pernikahan. Hari ini, tepat di depan mata Andre. kedua sahabatnya sah menjadi pasangan suami istri. Andre kemudian menyalami mereka berdua dan memberikan ucapan selamat. Lala memeluk Andre, karena sudah lama mereka tak saling memberi kabar. Sakit ?. tidak, kali ini tidak sakit. Karena penyembuhnya sudah ada, yaitu Hannah.

 

            Andre mondar-mandir mencari Hannah. Ah dapat, ucap Andre dalam hati. Namun, ia melihat Hannah juga sibuk. Ternyata Hannah adalah penanggung jawab di pernikahan Roy. Andre menghampiri Hannah dan menanyakan apa yang membuatnya ganduh. Ia bilang kateringan makan siang belum datang. Sudah ditelpon beberapa kali juga tidak diangkat. Andre bilang bahwa ia akan mendatangi pemilik katering tersebut.

 

            Setelah didatangi ke tempat katering, ternyata mobil pengantar makanan sedang mogok. Andre memakluminya. Kemudian Andre kembali ke hotel. Di perjalanan menuju hotel, ia melihat asap tebal ke arah hotel. Jangan-jangan, tidak !. pikiran Andre mulai memikirkan perkiraan yang tidak-tidak. Ia melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Membeku. Andre membeku setelah melihat hotel yang tadinya berdiri tegak, sekarang menghasilkan asap hitam dan tebal. Suara sirene ambulan dan pemadam kebakaran menyadarkanya dari lamunan. Andre menerobos masuk ke hotel mencari Hannah, walaupun pihak hotel telah menahannya. Ia berteriak sambil mengeluarkan air mata. Itu dia !, ucapnya dalam hati. Hannah terpapar di sana. Sambil mengeluarkan air mata. Andre mencium Hannah dengan lembut. Ini adalah patah hati keduanya Andre.

 

            Gelap. Andre terbangun. Ia sekarang berada di rumah sakit. Ia pingsan ketika menerobos masuk ke hotel. Mama dan Ayahnya ada di sana. Ia bertanya bagaimana keadaan Hannah,Lala, dan Roy. Mamanya mengeluarkan air mata sambil memeluk Andre dan berkata bahwa mereka bertiga telah beristirahat tenang disana. Momen ini adalah momen paling menyakitkan di kehidupan Andre. kehilangan kedua sahabatnya dan juga belahan jiwanya.


Cerpen By : M.Reza Syahputra_Peserta lomba cerpen patah hati_inspirasi pena

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenal Sejarah dan Fakta Sungai Bilah, Sungai Pelarian Orang Bilah

  Sungai Bilah merupakan sungai yang terdapat di Kabupaten Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara. Sungai ini memiliki hulu di sekitar bukit b...